Kalau mencoba merefleksikan diri musuh terbesar Ibun bukan siapa tapi apa. Iya bukan siapa yang menjadi musuh terbesar Ibun tapi apa. Ibun tidak akan menjadikan siapa pun menjadi musuh meskipun itu menyakitkan Ibun. Menurut Ibun ketika ada seseorang yang selalu berusaha menyakiti Ibun, dia sedang memberi pelajaran berharga untuk Ibun agar menjadi lebih baik. Kok begitu? Iya lah, karena orang yang berusaha menghambat hakikatnya ia sedang mengajarkan diri untuk bertahan dan berusaha lebih baik darinya. Itu menurut Ibun loh ya.
Jadi apa dong musuh terbesar Ibun? Hmmm, mau tahu aja atau mau tahu banget...hehehe. Musuh terbesar Ibun adalah Prokrasinasi. Jadi bukan siapa tapi apa ya. Sikap prokrasinasi Ibun yang sering menghambat diri Ibun dalam segala hal. Lucunya, meskipun sudah tahu tanpa Ibun sadari sering melakukannya kembali.
Ibun baru menyadari dua hal di atas yang sering menghambat apa yang harus Ibun lakukan. Ujung-unjungnya pencapaian Ibun tidak maksimal. Penyesalan itu biasanya datang belakangan, ya kan? Apa yang sudah direncanakan tidak sesuai rencana akhirnya menyesal dan malu sendiri deh.
Apa yang dimaksud dengan Prokrasinasi?
Prokrasinasi sendiri merupakan kata serapan dari Bahasa Latin procrastinare yang berarti "putting forward until tomorrow' atau megundurkan sesuatu sampai hari esok. Awalnya kata prokrasinasi tidak memiliki konotasi negatif hingga pertengahan abad ke-18, ketika permulaan revolusi industri. Sejak saat itu, prokrastinasi memiliki konotasi moral. Hal ini diartikan bahwa seseorang tidak menghayati kewajibannya, yang dapat menyebabkan penyesalan. Konsekuensi psikologis seperti mengalami penyesalan atau mempengaruhi kesejahteraan secara negatif, menurunkan kinerja, dan beberapa pandangan sosial yang tidak menyenangkan (Cit. Buka Kurung, 2017).
(Sumber : https://twitter.com/tim_fargo/status/1074908441460830208)
Ada cerita nih terkait sikap Prokrasinasi. Ceritanya beberapa bulan lalu Ibun mengajukan abstak untuk suatu event Internasional di Singapura, 9th International Conference-Together Against Stigma 2019. Abstrak Ibun dinyatakan diterima untuk presentasi poster. Ibun lupa kalau pasport Ibun sudah expire sejak satu tahun lalu. Ibun pikir ah nanti juga mudah untuk mempernjangnya jadi Ibun mengerjakan hal lain dulu. Sebulan setengah sebelum acara Ibun baru sadar harus segera menyelesaikan urusan pasport. Ibun belum berani registrasi kalau belum punya pasport. Ternyata sejak Ibun mengurus sampai saat ini tidak berhasil juga untuk mendaftar antrian online untuk mengurus pasport. Sementara travel agent yang biasa membantu ternyata tidak bisa membantu karena Kantor Imigrasi sedang memperbaiki sistem. Jadilah Ibun gagal untuk mendapatkan pasport tersebut, akibatnya Ibun gagal deh jalan-jalan ke Singapore..heheh. Untuk menghibur diri Ibun alihkan dengan mengerjakan penelitian hibah di tempat Ibun bekerja (konyol kan Ibun..hehehe).
Sebenarnya masih banyak lagi pencapaian-pencapaian yang tidak maksimal yang Ibun lakukan tapi kalau mau dijabarin di sini bisa jadi cerita bersambung yang membosankan. Ibun berpikir ini harus diubah. Buat Ibun sikap prokrasinasi merupakan suatu bentuk regulasi diri yang imatur. Mau sampai kapan Ibun seperti ini. Kesannya tidak profesional. Malu ah..sudah ikutan belajar di Institut Ibu Profesional tapi tidak ada perubahan dalam hidup. Tapi ternyata nggak mudah ya untuk mengubah perilaku karena akan berkaitan dengan cara berpikir. Pola pikir Ibun yang harus berubah.
Tapi bagaimana caranya?
Ibun teringat pernah mengikuti kulwap di IIP. Temanya menarik tentang Bullet Journal (BuJo). Ibun sebenar asing dengan materi tersebut. Setelah mengikutinya ternyata tertarik untuk melakukannya. Jadilah Ibun mencoba membuatnya. Seperti biasa awal-awal membuatnya sikap prokrasinasi sempat muncul. Ah, ntar aja deh masih banyak kerjaan yang lain. Terus saja begitu. Akhirnya setelah beberapa pekerjaan Ibun sering tertunda Ibun memutuskan untuk meng-eksekusi niat tersebut. Pertengahan Agustus Ibun memual membuat BuJo, itu juga masih nggak disiplin mengisinya. Sejak awal September ini Ibun mulai teratur mengisi BuJo. Semoga hal ini bisa menjadi solusi ya dari sikap prokrasinasi Ibun yang sudah menahun ini.
Gambar di atas beberapa halaman yang Ibun buat dari BuJo bulan September ini. Hmm, perlu perjuang nih membiasakan untuk berpikir, bersikap lebih teratur. Semoga Ibun bisa istiqomah ya..heheh. Kan mau jadi Ibu Profesional.
#tantanganseptemberceria
#tujuhharibercerita
#rumahbelajarliterasiipjogja
#Harikedua


Tidak ada komentar:
Posting Komentar