Boleh cerita apa saja ya? Tantangan hari ke-enam mau cerita tentang rindu. Ini benar-benar sedang merindukan anak Ibun yang lagi mondok di Ponpes, Boyolali.
*****
Setiap Selasa siang Ibun latihan yoga bersama salah seorang teman Ibun. Guru yoga Ibun namanya mbak Helga. Dari sekian banyak guru yoga yang pernah Ibun ikuti, dia paling OK menurut Ibun. Kenapa? Selain baik dan sabar, mbak Helga juga mengerti tentang anatomi tubuh sehingga gerakan-gerakan yang diberikan dapat disesuaikan dengan keadaan Ibun yang obesitas ini. Ibun sebenarnya tidak hendak bercerita tentang yoga. Ibun mau cerita bahwa sepulang yoga kemarin walau badan terasa segar tapi Ibun mudah sekali mengantuk. Masa jam 18.30 mata Ibun sdh 5 watt. Akhirnya Ibun memutuskan botik (bobok cantik) selepas sholat Isya.
Niatnnya jam 02.00 pagi Ibun akan bangun dan seperti biasa quality time for myself , mengerjakan apa saja yang membuat ibu senang. Biasanya Ibun akan baca buku yang sedang Ibun pelajari atau mengerjakan tugas yang belum selesai. Baik itu tugas dari tempat kerja atau pekerjaan rumah yang belum Ibun selesaikan.
Ibun ingat benar jam 01.15 terbangun dari tidur. Ibun tiba-tiba sedih karena dalam mimpi Ibun, anak Ibun yang kecil menangis saat menelpon Ibun. Ibun tiba-tiba lemas, ada apa ya. Ibun terus bangun dari tempat tidur menuju ruang keluarga, kemudian Ibun membenamkan diri untuk membuat leaflet kegiatan di komunitas. Ibun masih tidak habis pikir kenapa bermimpi seperti itu. Sepertinya rasa rindu yang membuncah di dada sehingga terbawa mimpi. Memang Ibun hampir tiga minggu Ibun menengoknya. Selain karena kondisi kesehatan Ibun yang sempat terganggu, juga karena tugas-tugas di RS yang tidak kunjung selesai.
Saat sarapan pagi Ibun ceritakan mimpi Ibun pada bapak. Bapak berkata,"Itu karena Ibu kangen banget adek, ya udah sabtu besok Ibu ke tempat adek."
Ibun sebenarnya bisa saja menanyakan pada pamongnya untuk mengetahui kabar Adek. Tapi mestinya kalau terjadi sesuatu mereka akan segera memberi tahu. Ibun khawatir kalau Ibun telpon ke pondok akan membuat khawatir Adek.
*****
Teringat bagaimana perjuangan Adek untuk bisa bersekolah di pondok tersebut. Ia sengaja memilih pondok tersebut yang jauh dari kemewahan hanya karena ingin mandiri. Ia harus mencuci baju sendiri, menyetrikanya,Ia harus mau untuk kerja bakti setiap hari Sabtu membersihkan toilet, kolam, halaman masjid, dan masih banyak lagi.
Masih teringat percakapan Ibun dengan Adek sebelum mondok.
"Adek, kalau tidak siap untuk sekolah di pondok tidak usah memaksakan diri,"kata Ibun
"Enggak kok Bun, Adek mau kok."
"Bisakah beri alasan pada Ibun kenapa Adek ingin mondok?"
"Adek ingin memperbanyak hafalan quran, Bun. Adek nggak bisa kalau tetap di rumah. Adek akan mudah terpengaruh gadget dan hal lainnya."
Ya Allah bergetar hati Ibun saat mendengar alasannya. Ibun nggak menyangka Adek berpikir sejauh itu. Ia yang biasanya selalu tidak bisa lepas dari gadget ternyata ia mau melepaskan diri dari zona nyamannya.
"Bukannya kalau Adek bisa hafal Quran, nanti Ibun bisa memakai mahkota di syurga?"
Ya Allah....Subhanallah. Ibun peluk Adek yang sedang bermain gadget waktu itu.
"Semoga cita-cita Adek terkabul ya."
Dia kembali pada gadgetnya.
*****
Seminggu mondok kami menengoknya. Dia sudah menjadi sosok yang berbeda, semakin dewasa. Tapi Ibun bisa merasakan ada yang disimpan olehnya. Akhirnya ia bercerita kalau ia di-bully oleh temannya. Adek tidak suka jika ditakut-takuti dengan serangga. Badannya dipegangi oleh beberapa teman kemudian serangga tersebut didekatkan padanya.
"Adek cuma bisa menjerit Bun,"katanya sambil menangis.
Kupeluk dirinya. "Jika Adek tidak kuat di sini, Ibun tidak keberatan kok kalau Adek pulang bersama kami."
Ibun nggak mikir kalau ternyata Adek mengatakan Iya untuk pulang, Ibun harus bagaimana. Ibun belum ada pandangan untuk bersekolah dimana.
"Enggak Bun, Adek masih bisa dan bertahan disini. Cuma Adek nggak mau Ibun cepat-cepat pulang."
Ibun biarkan ia tertidur di pangkuan Ibun sampai ia terbangun. Kami pun rela untuk pulang malam dan sampai di rumah jam 02.00 pagi.
*****
Sebelum berangkat ke pondok, kami sempat foto-foto di photobooth. Bapak nggak bisa ikut karena bapak tidak bisa turut bersama kami, badannya tidak memungkinkan untuk ikut. Sengaja kami mencetak 4 lembar agar semua dapat menyimpan foto.
Baik-baik di pondok ya Dek. Ibu berdoa di sini Adek selalu dalam lindunganNya.
In syaa Allah Ibun segera menemgokmu.
Peluk sayang,
Ibun Tika
#Tantangansemtembercerita
#Tujuhharibercerita
#rumahbelajarliterasiipjogja
#Harikeenam
Rabu, 18 September 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Jurnal Kupu-kupu Pekan 7 : Terima Kasih Mentor dan Mentee
Aaaah, nggak nyangka bisa sampai tahap ini. Pekan Tujuh, akhir dari tahap kupu-kupu. Alhamdulillah, Terima kasih Ya Allah. Berkat Rahmat-M...
-
Ibuun, selamat ya telah berusaha dan berjuang melewati tantangan 4 game di tahap telur (Self-talk...😅). Luar biasa game-nya, baru kali in...
-
Tantangan hari ke-lima nih. Tidak seperti tantangan-tantangan sebelumnya tema sudah ditentukan, mulai hari ke-lima tema bebaaas. Malah jadi...
-
Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Haha hihi bareng, ngobrol bareng, diskusi bareng dan bermimpi bareng. Rasanya lama banget kita nggak melakuk...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar