Sabtu, 21 September 2019

Mari Kita Jaga Bersama

Pulang ke kotamu..ada setanggup haru dalam rindu....
Ah, Yogya memang buat kangen. Baru ditinggal satu hari saja sudah merasa ingin segera sampai di Yogya.
Saat ini sebenarnya Ibun sedang menuju Yogya. Darimana? Dari kampung halaman, Bandung.

Ibun mau cerita tentang toilet kereta ya. Ups...? Kok cerita toilet sih? Memang nggak ada cerita yang lain yak?
Hehhehe..boleh lah. Di sini Ibun bisa cerita bebas ya.

Delapan jam perjalanan Bandung-Yogya itu nggak sebentar loh. Tidur sudah...baca wa sudah...ngintip medsos dan komen-komen dikit sudah, ngemil sudah, makan siang sudah juga. Mau ngapain lagi ya? O iya pipis belum.
Idiih jorok? Lah kok jorok..enggak lah. Pipis atau buang air kecil itu hasrat yang harus segera dituntaskan ya. Karena kalau ditahan-tahan bisa jadi penyakit, infeksi saluran kemih loh. Makanya jangan pernah nahan pipis ya. Jadi nggak jorok ya.

Sebelum ke toilet, info dari kakak toilet jongkok di sebelah kanan, toilet duduk sebelah kiri. Ibun pilih toilet duduk lah karena dalam perjalanan menggunakan kereta Ibu nggak nyaman kalau toilet jongkok.

Sampailah di toilet. Ibun buka tutup closetnya. Hah...banyak tisu menyumbat di lubang closetnya. Ibun cuma tarik nafas panjang, padahal jarak closet dan tempat sampah hanya 1 langkah, ya kira-kira sepanjang tangan kita deh kalau diluruskan. Jadi nggak terlalu jauh kan untuk menggapai tempat sampah.

Ibun menekan tombol pendorong air dengan harapan tisu-tisu tersebut terdorong masuk ke bawah. Ternyata tidak berhasil. Ibun tekan kembali dengan tekanan yang lebih kuat, tidak berhasil juga. Ibun cuma bisa pasrah. Ibun nggak habis pikir dengan orang yg terlalu egois membuang tisu di closet. Apakah mereka nggak mikir bisa tersumbat. Kalau tersumbat artinya toilet tersebut nggak bisa digunakan. Sementara perjalanan masih 4 jam lagi. How selfish she/he is? Mungkin saja dia bisa bilang kan masih banyak toilet yang lain. Pala loe peyang..toilet lain ya untuk penumpang gerbong lain dong.

Ibun nggak mungkin pindah ke toilet lain lah, sudah kebelet banget. Ya udah, Ibun merelakan tangan kiri untuk menjemput paksa tisu-tisu itu untuk berada pada tempat yang semestinya. Sebelumnya Ibun mengambil tisu kering untuk mengambil tisu dlam closet. Kalian akan berpikir nggak worthy Bun tisu kering tersebut karena tidak akan melindungi tangan Ibun dari kuman dan kotoran. Bodoh amat deh, paling tidak di pikiran Ibun merasa lebih nyaman. Setelah itu Ibun cuci tangan bersih-bersih walaupun tanpa sabun. Hahhaha nggak worthy juga ya. Sekali lagi bodoh amat ah.

Ibun duduk setelah memberaihkan alas duduk closetnya. Dan...lega rasanya...hehehhe.

******

Gerbong eksekutif ternyata tidak selalu menggambarkan mental seorang yang eksekutif. Memang mentalnya harusnya bagaimana? Ya..berpikir bahwa gerbong eksekutif yang naik pun teredukasi dengan baik lah. Mengerti lah apa yang terjadi jika toilet dimasukkan tisu kemudian tersumbat dan bla..bla..bla.

Fasilitas secanghih apa pun tidak akan menjamin jika mental user-nya masih mental sembrono begitu.

Terima kasih PT KAI dan segenap jajarannya sampai cleaning service yang selalu memberi profesionalisme kalian sehingga membuat penumpang selalu nyaman di berbagai kelas. Maafkan kami para penumpang yang masih lupa kalau kaminpun wajib menjaga bersama untuk kenyamanan bersama.

#thespiritofwriting
#ibubelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal Kupu-kupu Pekan 7 : Terima Kasih Mentor dan Mentee

  Aaaah, nggak nyangka bisa sampai tahap ini. Pekan Tujuh, akhir dari tahap kupu-kupu. Alhamdulillah, Terima kasih Ya Allah. Berkat Rahmat-M...